5 Ayat Al-Quran tentang Peran Penting Ayah dalam Mendidik Anak

0
88
ilustrasi foto: freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Ayah, sosok yang penuh cinta dan kasih sayang, menjadi pilar utama dalam keluarga. Ayah adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Peran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai panutan, pembimbing, dan sahabat bagi anak-anaknya.

Dalam menjalani kehidupan yang getir, ayah mengajarkan banyak dalam hidup sebagai modal utama., mulai dari mengajari nilai-nilai moral, keterampilan hidup, hingga bagaimana menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan. Ayah berperan penting dalam mendampingi setiap langkah anak-anaknya, memberikan bimbingan dan dukungan yang tiada henti.

Peran Ayah menurut Al-Qur’an

Seperti dikutip dari nu.or.id, dalam Al-Qur’an banyak menceritakan tentang peran ayah dalam kehidupan anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa peran ayah dalam keluarga sangatlah penting.

  1. Surat Luqman ayat 13

Dalam Surat Luqman disebutkan bahwa Luqman al-Hakim mendidik anaknya agar tidak menyekutukan Allah:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman [31] ayat 13)

Menurut al-Wahidi dalam kitab Tafsir al-Basith, Jilid III, halaman 443, ayat ini menceritakan tentang Luqman yang menasehati anaknya agar tidak menyekutukan Allah dalam beribadah. Pasalnya, perilaku syirik termasuk dosa yang paling besar, karena menyekutukan Allah berarti menganggap ada yang setara dengan Allah dalam hal penciptaan, pemeliharaan, dan penguasaan alam semesta. Perilaku syirik berarti tidak mengakui keesaan Allah dan tidak beribadah hanya kepada-Nya.

 ليس شيء من الذنوب أعظم من الشرك بالله

Artinya:  “Sejatinya tidak ada dosa yang lebih besar dibandingkan dosa syirik pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

  1. Surat As-Shaffat ayat 102-110

Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah berhasil mendidik kedua putranya, Ismail dan Ishaq sehingga menjadi pribadi yang saleh, patuh, dan memiliki peran besar dalam sejarah umat manusia. Melalui didikan dan teladannya yang penuh kasih sayang, Nabi Ibrahim berhasil membesarkan anak-anaknya menjadi saleh dan memiliki masa depan yang gemilang.

Lebih jauh lagi, Nabi Ibrahim membangun hubungan yang erat dan penuh kasih sayang dengan kedua putranya, Ismail dan Ishaq. Nabi Ibrahim, tipikal seorang ayah terbuka untuk mendengarkan dan memberikan nasihat kepada Ismail dan Ishaq. Dengan komunikasi yang terbuka ini membuat Ismail dan Ishaq merasa dihargai dan disayangi, sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS As-Shaffat [37] ayat 102)

Belajar dari ayat di atas, sejatinya, keterbukaan dalam komunikasi merupakan salah satu kunci utama dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis, terutama dalam konteks hubungan antara orang tua dan anak. Dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, keterbukaan dalam komunikasi terlihat jelas bagaimana Nabi Ibrahim menceritakan rencana pengorbanan kepada putranya.

Nabi Ibrahim tidak menyembunyikan atau berbohong kepada Ismail, melainkan menceritakan semuanya dengan jujur dan terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kepercayaan yang besar kepada Ismail, ia ingin membangun hubungan yang penuh keterbukaan dengan putranya.

Ketika orang tua, khususnya ayah terbuka dengan anak-anak, hal itu akan membuat si anak merasa lebih nyaman untuk berbicara tentang perasaan, pikiran, dan masalah yang tengah dihadapi. Pun, keterbukaan ini membantu anak-anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk kesuksesan  di masa depan.

  1. Surat Hud ayat 42-43

Dalam kisah Nabi Nuh, salah satu kisah yang menarik adalah persuasi yang dilakukannya kepada anaknya yang kufur. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Hud [11] ayat 42-43:

وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ. قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗقَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚوَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

Artinya: “Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.

 

 

Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air (bah).” (Nuh) berkata, “Tidak ada penyelamat pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali siapa yang dirahmati oleh-Nya.” Gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS: Hud [11] ayat 42-43)

Dengan demikian, Nabi Nuh telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkan anaknya yang kufur. Nabi Nuh telah mengajak anaknya untuk naik ke kapal bersamanya, tetapi anaknya menolak. Anaknya bersikeras untuk tinggal di bukit dan mengira bahwa bukit tersebut akan melindunginya dari air bah.

Mendengar jawaban anaknya, Nabi Nuh kemudian menjelaskan kepada anaknya bahwa tidak ada yang dapat melindungi dari keputusan Allah pada hari itu, kecuali orang yang dirahmati-Nya. Sayangnya, Nabi Nuh tidak mampu menyadarkan anaknya. Akhirnya, anak Nabi Nuh pun tenggelam bersama orang-orang yang kafir lainnya.

Persuasi yang dilakukan Nabi Nuh kepada anaknya, merupakan pelajaran penting bagi kita semua. Pelajaran tersebut mengajarkan kita bahwa kita harus selalu berusaha untuk menyadarkan orang lain yang berbuat salah, meskipun orang-orang terdekat kita.

Namun penting disadari bahwa keberhasilan dalam menyadarkan orang lain adalah menjadi keputusan Allah. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui hati manusia. Dialah yang menentukan apakah seseorang akan menerima hidayah atau tidak.

  1. Surat Yusuf ayat 86

Nabi Ya‘qub mengajarkan tauhid kepada anak-anaknya, tauhid merupakan fondasi utama dalam pendidikan Islam. Dengan mengajarkan tauhid kepada anak sejak dini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Hal ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjalani kehidupan dengan baik dan benar.

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Yusuf [12] ayat 86)

Dalam ayat tersebut, Nabi Ya‘qub mengajarkan tauhid kepada anaknya dengan cara mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Ya‘qub senantiasa berserah diri kepada Allah dan tidak pernah putus asa dalam menghadapi cobaan.

Di ayat sebelumnya, Nabi Ya‘qub juga mengajarkan anaknya untuk senantiasa bersyukur dan tawakal pada Allah.

وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍۗ وَمَآ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

Artinya: “Ia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. (Namun,) aku tidak dapat mencegah (takdir) Allah dari kamu sedikit pun. (Penetapan) hukum itu hanyalah hak Allah. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya (saja) orang-orang yang bertawakal (meningkatkan) tawakal(-nya).” (QS Yusuf [12]ayat 67)

  1. Surat Maryam ayat 3-6

Dalam Surat Maryam ayat 3-6 dikisahkan tentang peran Nabi Zakaria dalam membentuk jati diri anaknya, Yahya dalam bentuk pendidikan prenatal. Secara singkat, pendidikan prenatal adalah pendidikan yang diberikan kepada anak sebelum ia lahir, melalui doa dan harapan orang tua.

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

Artinya: “Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (QS Maryam [19] ayat 11)

Setiap hari, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar menganugerahinya seorang anak yang saleh dan patuh kepada Allah. Doa Nabi Zakaria ini terjawab dengan lahirnya Nabi Yahya, seorang anak yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Sejatinya, pendidikan prenatal yang diberikan oleh Nabi Zakaria kepada Nabi Yahya membuahkan hasil yang luar biasa. Nabi Yahya tumbuh menjadi anak yang saleh, penuh hikmah, dan bijaksana. Ia menjadi nabi yang diutus oleh Allah untuk membimbing umat manusia.

Dengan demikian, peran ayah dalam Al-Qur’an begitu penting dan tak tergantikan. Ayah adalah pilar keluarga yang kokoh, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, setiap ayah harus berupaya untuk menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya, agar bisa menjalani teladan dalam keluarga. [ ]

5

Redaksi: admin

904