Ini Kisah Anak Lulusan S2 Luar Negeri, Padahal Ibu hanya Lulusan SD, Begini Pola Asuh dan Dukungan Ibundanya

0
74
ilustrasi fotoL freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Kesuksesan anak tak luput dari doa ibu yang selalu menyertai. Berkat sang Bunda, perempuan asal Sumbawa ini sukses meraih gelar S2 hingga ke Skotlandia.

Enta Fadila merupakan seorang awardee LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang berasal dari sebuah desa di Nusa Tenggara Barat.

Perempuan yang akrab disapa Dila ini lahir dan dibesarkan di keluarga sederhana. Bahkan, Dila bercerita bahwa sang Bunda adalah lulusan SD dari desa terpencil. Ia tak bisa melanjutkan pendidikan SMP lantaran harus menempuh jarak 45 km ke kota.

Ibunda Dila tak pernah menginjakkan kaki di negara mana pun selain Indonesia. Namun, ia bisa mengirim putrinya kuliah di luar negeri.

Sebelumnya, Dila telah menyelesaikan program studi S1 di Universitas Brawijaya, Malang. Ia sudah bermimpi untuk melanjutkan studinya. Namun, ia sempat minder untuk meraih mimpinya.

“Dulu tuh masih minder dan orang tua juga punya pemikiran kalau selesai S1, ya kerja. Karena ujung-ujungnya kan kerja dan cari duit. Sampai saya dulu lulus tuh mikirnya yasudah kerja aja, S2 buat orang-orang keren aja. Singkat cerita, saat semangat saya menurun, justru ibu saya yang menyemangati saya untuk mendaftar beasiswa,” kata Dila dilansir dari HaiBunda.

Dila dan ibunya( foto: ig @entafadila)

Bagi Dila, sang Bunda adalah salah satu motor penggerak yang terkuat. Ia berhasil meyakinkan Dila untuk mendaftar beasiswa LPDP dan bersikap tidak ragu untuk meraih mimpinya.

Tak hanya itu, ibunda Dila bahkan memberikan dorongan penuh dari segi finansial. Dila selalu diajarkan untuk tidak pernah memusingkan uang.

“Pernah sekali saya mendengar beliau yang menjadi tempat curhat orang yang mengeluhkan dana pendidikan anaknya. Ibu saya berbicara seperti ini ‘Kita sebagai orang tua, tidak boleh mengeluh di depan anak-anak. Tugas anak-anak adalah belajar dan kita fokus cari duit serta dukung mereka. Kalau kita mengeluh, kita bisa melemahkan mimpi dan semangat mereka’,” tuturnya.

“Hal yang paling saya salut adalah saat ibu bilang ‘kalau untuk main-main, ibu tidak ada dana, tapi kalau untuk sekolah, berapapun itu, mama usahakan’,” imbuh Dila.

Berkat dorongan ibunda, Dila akhirnya mendaftar beasiswa LPDP. Tak disangka, ia lolos dan menjadi angkatan terakhir daerah 3T dari Sumbawa sebelum ditutup karena pandemi COVID-19. Bagaikan cenayang, sang Bunda bisa memprediksi kemungkinan yang terjadi.

“Dila daftar aja sekarang ya nak. Kita kan enggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Gimana kalau Sumbawa sudah enggak masuk ke daftar daerah 3T? Enggak ada salahnya coba,” ujar sang Bunda kala itu.

“Benar saja, tahun 2020 LPDP hanya membuka jalur Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD) karena COVID-19. Setelahya, LPDP membuka pendaftaran beasiswa di tahun 2021 namun Kabupaten Sumbawa sudah masuk ke dalam daftar Daerah Afirmasi 3T,” ucap Dila.

Dila mendaftar LPDP dengan hanya bermodalkan TOEFL ITP. Ia juga mendapatkan kursus IELTS gratis oleh LPDP. Ia diterima di salah satu kampus bergengsi dunia, yaitu University of Glasgow di Skotlandia.

“Sebelum berangkat, ibu mengingatkan saya, ‘Nak, Dila, nanti pas di Glasgow mama enggak akan telepon ya karena takut ganggu kegiatan Dila. Jadi Dila yang telepon mama kapanpun Dila mau telpon, mama angkat, jangan pikirkan jam’,” Dila bercerita.

Sesampainya di Skotlandia, Dila bersyukur tidak mengalami culture shock yang berarti. Ia lebih banyak bersyukur karena dapat berangkat ke luar negeri di masa pandemi. Namun, ia tak memungkiri sempat merasa kaget dengan sistem pendidikan yang berbeda dari Indonesia.

“Dulu S1 merasa cukup kritis, ternyata itu belum ada apa-apanya di mata dosen di UK. Lalu materi kuliah serta durasi 1 tahun yang terkesan ngebut,” ungkapnya.

Sambil berjuang menyelesaikan S2, Dila tak lupa menjalin komunikasi dengan sang Bunda di kampung halaman. Ia bercerita bagaimana antusiasme sang Bunda untuk berkomunikasi dengan putrinya.

“Selama di Glasgow, saya menelpon beliau satu kali sehari, biasanya di jam siang Glasgow atau di waktu selesai salat magrib di WITA. Menariknya, ibu saya memasang dua buah jam di ruang tamu, yaitu satu jam dengan waktu setempat, satunya lagi jam Glasgow. Jadi saat peralihan BST ke GMT, beliau juga menyesuaikan,” ujarnya.

Saat ini Dila telah menyelesaikan program studi S2 dan pulang ke Indonesia, Bunda. Meski sudah hampir satu tahun lulus, ia masih semangat menggeluti bidang pendidikan dan empowerment.

“Untuk saat ini berfokus pada karier dan kontribusi. Doakan ya, semoga bisa berkesempatan menempuh pendidikan lagi nantinya. Lalu salah satu mimpi saya adalah berangkat umrah bersama ibu dan bapak. Saya ingin sekali memberangkatkan beliau berdua ke luar negeri dan umrah bersama. Mohon doanya,” kata Dila.

Bagi Dila, ada banyak nilai yang bisa ia petik dari pola asuh sang Bunda, “Tentunya banyak sekali ilmu yang saya dapat dari ibu saya untuk pola asuh ke depannya. Di antaranya adalah yakin pada diri sendiri. Saat kita yakin bahwa kita bisa, insya Allah kita bisa.”

“Beliau sering sekali mengajarkan saya untuk ikhlas dan rela membantu orang lain. Beliau juga menanamkan bahwa setiap bantuan dan usaha yang ikhlas dapat menjadi kebaikan lainnya, mempermudah urusan kita sendiri, atau menghadirkan doa-doa baik untuk kita,” imbuhnya. [ ]

5

Redaksi: admin

894