Ketika Suami Berselingkuh, 5 Hal ini Yang Harus dilakukan Istri

0
119
ilustrasi foto: freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Dalam mengarungi bahtera rumah tangga tak selamanya menjalaninya dalam ketenangan dan keharmonisan. Ada kalanya ombak menerjang rumah tangga dari sekedar kapal oleng hingga terancam karam berantakan.

Ada banyak hal yang dapat membuat biduk rumah tangga diterpa badai baik yang bersumber dari suami atau istri atau bahkan kelurga besar. Salah satu faktor dari suami adalah hadirnya orang ketiga yang disebut dengan Wanita idaman lain (WIL) yang menggoda suami. Hal ini yang membuat atau melatar belakangi suami berbuat selingkuh.

Lalu bagaimana jika suami melakukan selingkuh? Seperti dikutip dari buku Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga  karya Aam Amiruddin & Ayat Priyatna Muhlis, hal yang sebaiknya dilakukan oleh istri menyikapi perselingkuhan suami adalah sebagai berikut.

Pertama, Berdoa Memohon Pertolongan dan Perlindungan kepada Allah Swt.

Doa adalah kekuatan, Allah Yang Maha Pembolak-balik hati agar suami selamat dari kemaksiatan dan terhindar dari perbuatan yang membuat situasi rumah tangga menjadi berantakan. Insya Allah akan tercipta keluarga yang berada dalam rel yang benar yang diridhai dan dicintai Allah Swt. Hendaklah berdoa dengan bahasa yang dipahami atau kontekstual dan dengan penuh kerendahan hati.

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 55)

Kedua, Tetap Bersikap Baik kepada Suami.

Jika disikapi dengan emosi dan perilaku yang tidak terpuji, misalnya mengeluarkan kata-kata kasar, bersikap memusuhi, apalagi tidak mau melaksanakan kewajiban sebagai istri (kebutuhan biologis), dikhawatirkan hal ini akan membuat suami semakin menjauh.

Keburukan tidak perlu dihadapi dengan keburukan, tetapi alangkah indahnya jika dihadapi dengan kebaikan. Lakukan yang terbaik sebagai istri, I do my best.

Dengan demikian, mudah-mudahan hati suami tersentuh, bangga, dan kagum terhadap istrinya. Konsekuensinya, suami akan betah di rumah, setia, dan tidak akan berpaling ke lain hati karena terpuaskan kebutuhan lahir dan batinnya.

Memang tidak mudah, tetapi itulah perjuangan sebagai mediator untuk mendapatkan cinta Allah. Bukankah janji Allah Swt. sangat jelas bahwa Dia akan memberikan reward,yaitu surga yang penuh kenikmatan, bila semua itu dihadapi dengan penuh kesabaran (memaafkan, arif, dan bijaksana)?

“Kebaikan tidak sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang memusuhimu akan seperti teman setia. Sifat-sifat yang baik tidak akan dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang sabar dan orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar..” (Q.S. Fushshilat [41]: 34-35)

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika perempuan mengerjakan shalatnya yang lima, puasa Ramadhan, memelihara kehormatannya dan taat kepada suaminya, akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.’” (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Ketiga, Istri Berikhtiar Untuk Mengendalikan Emosinya

Mendengar suami selingkuh tentu bisa memicu istri bersikap emosi, ia merasa dikhianati, disakiti dan sebagainya. Namun hendaknya istri sejenak dapat menahan emosi agar suami tidak merasa tertekan.

Jangan terlalu menekan suami untuk mengakui kesalahan karena akan menambah permasalahan, bahkan bukan tidak mungkin jika suami sudah merasa kesal dan tertekan, dia melakukan hal-hal yang lebih jauh dan semakin tenggelam dalam perselingkuhannya. Yang urgen adalah inti solusinya, yakni “adanya perubahan” menuju rumah tangga yang harmonis, terjalin kembali kasih dan sayang antara suami, istri, dan anak.

Keempat, Konsultasikan Kepada Orang Yang Tepat.

Jangan diumbar, apalagi dipublikasikan. Sebaiknya konsultasi dilakukan kepada orang yang telah berhasil membuat solusi dalam permasalahan yang sama (senasib).

Kelima, Melakukan Introspeksi.

Ini adalah sikap yang berat dengan introspeksi diri sebelum menyalahkan orang lain (suami) namun hal ini perlu dilakukan guna memperbaiki diri lahir dan batin, bersikap terbuka (pemaaf), dan melakukan kewajiban[1]kewajiban sebagai istri yang baik.

“…Maka, perempuan-perempuan yang saleh adalah perempuan yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka…” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Poin-poin tadi memang tidak mudah direalisasikan. Oleh karena itu, barengi dengan berikhtiar, sabar, dan tawakal sampai ada solusi terbaik. Yakinlah bahwa Allah Swt. Yang Mahaadil, Maha Pengasih dan Penyayang akan memberikan solusi kepada hamba yang datang kepada-Nya. Ingat, yang diperhitungkan oleh Allah Swt. adalah proses, bukan hasil.

“Katakan, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Allah mengabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. At-Taubah [9]: 105)

Jadikanlah hal itu sebagai media untuk semakin akrab dengan Allah Swt. sebagai pelajaran untuk menjadi lebih dewasa, mampu menyikapi kehidupan secara realistis, dan sebagai aset untuk kebahagiaan di masa mendatang.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Bisa juga kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

“Segala sesuatu yang ada di sisimu akan lenyap dan sesuatu yang ada di sisi Allah adalah kekal. Kami pasti akan memberi balasan kepada orang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 96)

Apabila ada permasalahan keluarga, hendaklah diselesaikan secara terbuka (jujur), terima suami apa adanya dengan bersabar (lapang dada), berorientasi ke masa depan demi kemaslahatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak dengan menghadapi kenyataan yang dialami sebagai lahan ujian dari Allah Swt. untuk semakin dekat dengan-Nya.

Mohonlah pertolongan-Nya agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menyikapi semua itu dengan tetap konsisten melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik.

Namun sebaliknya, apabila situasi semakin kacau, istri merasa semakin terzalimi, suami menjauh, dan jika dipertahankan makin banyak kemudaratan (semakin menjauh dari Allah), solusinya ada dua, yaitu pertama, istri tetap sabar dan terus berikhtiar untuk menjadi istri yang baik dan bertawakal kepada Allah Swt. dan kedua, boleh melakukan khulu’, yaitu istri mengembalikan maskawin karena merasa terzalimi. Secara otomatis, pernikahannya batal atau cerai.

“… Jika kamu khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, keduanya tidak berdosa apabila istri mengembalikan mahar yang pernah diterimanya sebagai tebusan dirinya…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 229). Wallahu’alam. [ ]

5

Redaksi: admin

904