7 Stimulasi Sensori yang Perlu Diperhatikan untuk Tumbuh Kembang Anak

0
373
Anak main lego ( ilustrasi foto: freepik)

PARENTINGISLAM.ID – – Tumbuh kembang yang optimal pada anak tidak lepas dari lengkapnya stimulasi sensori yang diberikan sejak dini. Diketahui ada 7 stimulasi sensori yang perlu diperhatikan untuk tumbuh kembang anak.

Dikutip dari Healthline, stimulasi sensori adalah masukan dan sensasi yang diterima ketika satu atau lebih indra diaktifkan.

Jenis stimulasi ini penting untuk perkembangan anak, bahkan juga pada orang dewasa dengan gangguan perkembangan.

Melalui sensori-sensori ini otak anak berkembang dan saling terhubung. Ketika ada salah satu sensori yang tidak terstimulasi dengan baik, maka akan berpengaruh pada kemampuan belajar, rutinitas harian, serta perilaku anak.

Stimulasi Sensori Untuk Tumbuh Kembang Anak

Anak memiliki 7 sensori dasar dalam tubuhnya, antara lain sensori perabaan, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecapan, proprioseptif (gerak antarsendi), dan vestibular (keseimbangan).

Jika salah satu atau beberapa di antaranya tidak bekerja secara optimal, maka anak rentan mengalami gangguan tertentu. Berikut ulasannya:

  1. Penglihatan (visual)

Stimulasi sensori pertama yang penting bagi perkembangan anak yakni visual atau indra penglihatan. Sesuai namanya, bentuk stimulasi ini berupa rangsangan pada hal-hal visual.

Bunda dapat melakukan stimulasi dengan mengajak anak melihat objek-objek bergerak, misalnya saat kemampuan penglihatan si Kecil mulai berkembang di usia 4 bulan. Anak sudah mampu melihat dan mengikuti gerak benda.

Stimulasi sensori visual yang dapat dilakukan:

  • Ajak bicara anak sambil tersenyum

  • Bermain dengan bayangan di tembok

  • Mengajak anak melihat pemandangan baru seperti kebun binatang

  1. Pendengaran (auditori)

Ketika getaran suara melintasi gendang telinga ke telinga bagian dalam, maka akan berubah menjadi sinyal saraf. Sinyal ini kemudian ditransmisikan ke otak melalui saraf pendengaran.

Rangsangan pada indra pendengaran melalui suara merupakan bentuk stimulasi auditori. Stimulasi ini berguna agar kemampuan pendengaran anak dapat berkembang.

Pada 12 bulan pertama usia anak, kemampuan mendengar dan memberi responsnya mulai berkembang. Ini terutama pada usia 2 hingga 6 bulan. Anak mulai mampu mengoceh, bahkan meniru suara-suara tertentu.

Stimulasi sensori auditori yang dapat dilakukan:

  • Dinyanyikan lagu-lagu

  • Hindari penggunaan buku atau mainan bersuara

  • Hindari paparan suara video dari gadget

  • Baju bayi Migli

  1. Peraba (taktil)

Pada sensori ini, ujung saraf (sel reseptor yang terletak di seluruh tubuh) mengirimkan sinyal ke otak dan menafsirkannya sebagai rasa sakit, tekanan, getaran, suhu, dan juga posisi tubuh. Stimulasi sensori berupa sentuhan ini juga sangat penting bagi perkembangan anak.

Stimulasi sensori taktil yang dapat dilakukan:

  • Memberikan benda-benda bertekstur berbeda pada anak, misalnya kain yang lembut, bola plastik yang licin, atau karpet yang agak kasar

  • Memberikan mainan dengan bentuk, ukuran, dan tekstur berbeda-beda

  • Bermain di pasir atau rumput tanpa menggunakan alas kaki

  1. Pengecapan

Ada sekitar 10 ribu sel reseptor yang mengirimkan sinyal ke otak, kemudian mengidentifikasi rasa manis, asin, asam, pahit, dan umami (gurih). Rasa juga dipengaruhi oleh bau, suhu, dan tekstur.

Rangsangan melalui hal-hal berupa rasa dilakukan untuk melatih indra pengecapan atau indra perasa anak.

Stimulasi sensori pengecapan yang dapat dilakukan:

  • Memberikan makanan pada anak dengan tekstur dan rasa yang bervariasi

  • Apabila anak masih bayi, stimulasi indra pengecapan juga bisa dilakukan melalui pemberian ASI

  1. Penciuman (olfaktori)

Untuk sensori penciuman, neuron sensorik yang berada di hidung mengirimkan sinyal ke otak guna menginterpretasi dan proses identifikasi. Ada juga neuron sensorik penciuman di langit-langit mulut.

Sesuai juga dengan namanya, stimulasi sensori penciuman berhubungan dengan rangsangan aroma dan berguna untuk melatih indra penciuman si Kecil.

Stimulasi sensori penciuman yang dapat dilakukan:

  • Melatih anak mengenali berbagai macam aroma, misalnya wangi bunga atau makanan tertentu

  • Memperkenalkan anak dengan nama dari masing-masing aroma yang dicium untuk menambah pengetahuannya

  1. Keseimbangan (vestibular)

Stimulasi vestibular berhubungan dengan rangsangan sensori pada keseimbangan tubuh. Salah satu contoh stimulasi sensori untuk ini dapat dilakukan dengan mengayun si Kecil.

Input yang didapatkan dari organ keseimbangan di telinga tengah termasuk seperti perubahan gravitasi, pengalaman gerak, dan posisi di dalam ruang.

Jika anak memiliki gangguan sensori vestibular, biasanya ia takut naik perosotan atau takut ketinggian.

Stimulasi sensori vestibular yang dapat dilakukan:

  • Mengajak anak bermain ayunan

  • Mengajak anak bermain trampolin

  • Mengayun perlahan tubuh anak saat sedang digendong

  1. Gerak otot (propiosetif)

Berperan dalam memproses input otot, tendon, sendi dan memberitahukan posisi tubuh. Hal ini erat kaitannya dengan sistem vestibular yang membantu memberikan pemahaman pengalaman sentuhan dan gerak.

Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh.

Stimulasi sensori propiosetif yang dapat dilakukan:

  • Memberikan waktu untuk tummy time rutin

  • Bermain lempar tangkap bola

  • Mendorong kursi atau benda yang diberi beban, misalnya galon

Demikian ulasan tentang stimulasi sensori yang perlu diperhatikan untuk tumbuh kembang anak. Yuk optimalkan stimulasi sensori si Kecil dengan memenuhi berbagai kebutuhan rangsangan ini sejak dini, Bunda!