Pondasi Keluarga Sakinah, Yuk Ayah Bunda Pahami 3 Hal Dasar Ini

0
301
ilustrasi foto: freepik/odua

PARENTINGISLAM.ID – – Tidak ada bangunan yang dapat berdiri kokoh tanpa disokong oleh fondasi yang kuat. Pun tidak ada keluarga atau rumah tangga yang dapat bertahan dari segala halangan dan rintangan tanpa disertai kekokohan fondasi keluarga sakinah. Dan, kekokohan fondasi rumah tangga sakinah sangat bergantung pada pemahaman dan kemauan untuk terus menegakkannya dalam interaksi rumah tangga sehari-hari.

Seperti dikutip dari buku ” INSYA ALLAH, SAKINAH Membangun Empat Pilar Keluarga Bahagia”  karangan Dr. H. Aam Amiruddin paling tidak, ada tiga fondasi utama yang mendasari keluarga sakinah, yaitu:

  1. Bangun Jiwa Sakinah

Untuk membangun keluarga sakinah, tentu kita harus mengerti apa itu “sakinah”. Sakinah berarti merasa tenang atau tenteram karena menerima apa adanya pasangan hidup kita dan selalu mendahulukan jiwa maaf.

Ya, kemampuan menerima pasangan apa adanya dan mendahulukan jiwa maaf adalah kunci utama dalam membangun fondasi sakinah.

Bagaimanapun, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki kekurangan. Menyadari bahwa pasangan memiliki kekurangan dan kita berbesar jiwa untuk menerimanya akan melahirkan perasaan tenang.

Hal tersebut akan menjauhkan kita dari menuntut kesempurnaan dari pasangan. Bolehlah kita mengharapkan pasangan kita untuk bersikap atau berpenampilan yang lebih baik sesuai dengan keinginan kita. Namun, kita tetap harus tetap dapat menerimanya manakala perubahan dalam diri pasangan kita belum sesuai dengan yang diharapkan.

Yang juga tidak boleh kalah melimpah adalah stok maaf untuk pasangan kita. Limpahkanlah maaf kepada pasangan kita untuk kesalahan yang telah, sedang, dan akan dilakukannya. Hal ini bukan bermaksud untuk membenarkan kesalahan yang diperbuatnya, tapi semata untuk memberikan ruang agar pasangan dapat belajar dari kesalahannya tersebut. Pada satu kesempatan, memaafkan pasangan dapat dilakukan dengan mudah.

Namun, pada kesempatan yang lain, memaafkan pasangan dapat menjadi sesuatu yang teramat berat dilakukan. Akan tetapi, kita tetap harus melakukannya jika ingin kesakinahan senantiasa melingkupi rumah tangga kita.

Berkenaan dengan membangun jiwa sakinah ini, Allah Swt. telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Allah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang di antaramu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rūm [30]: 21)

  1. Hidupkan Jiwa Mawaddah

Mawaddah artinya cinta yang terus tumbuh, terus terawat, meskipun ditemukan atau dirasakan ada hal-hal yang tidak disukai dari pasangan. Ini adalah fase lanjutan dari menerima pasangan apa adanya dan melimpahinya dengan maaf. Di sini, kita dituntut untuk menerima kekurangan pasangan dan menjadikannya sebagai alasan untuk lebih mencintainya. Sebab, ada kalanya, kita dapat memaafkan kesalahan pasangan, tetapi tidak dengan melupakan kesalahan tersebut. Istilahnya, forgiven not forgotten. Kalau hal ini yang terjadi, yakinlah bahwa maksud mawaddah atau cinta yang terus bertumbuh ini tidak akan terjadi.

Sungguh mulia orang-orang yang mampu menghidupkan jiwa mawaddah dalam keluarganya. Sebab, memupuk cinta pada pasangan ketika kita menemukan hal-hal yang tidak kita sukai dalam dirinya bukanlah perkara mudah. Jadi, mawaddah adalah rasa sayang atau cinta yang punya nilai plus tersendiri. Dan, untuk menumbuhkannya, ada tiga cara yang bisa kita lakukan, yaitu:

  • Katsrotut tahaadi, saling menghargai.

Ketika pasangan kita melakukan hal yang baik atau memperlakukan kita dengan istimewa, ucapkanlah terima kasih dan berikan pujian untuknya. Hal ini merupakan bentuk penghargaan sederhana yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan mawaddah dalam keluarga.Kasih sayang yang bersifat duniawi bukanlah rahmah, melainkan mahabbah

  • Katsrotut dzikri, saling mengingat kebaikan.

Memang sudah menjadi kodrat manusia untuk lebih mudah mengingat keburukan daripada kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Meski demikian, kita harus berusaha, setahap demi setahap, melawan tabiat tersebut karena tidak ada hal baik yang datang darinya. Terutama dalam konteks kehidupan berumah tangga. Dalam interaksi suami-istri, kita harus lebih banyak mengingat kebaikan yang dilakukan oleh pasangan daripada keburukannya. Kita perlu mengingat kebaikan-kebaikan itu agar cinta kepada pasangan terus tumbuh dan mawaddah terwujud.

  • Katsrotil iftisoolima’ah, saling berkomunikasi.

Yang perlu diperhatikan adalah kita harus berkomunikasi dengan baik seperti saat sedang bermain pingpong. Ketika pasangan selesai berbicara, kita menimpali. Ketika kita yang berbicara, pasangan yang menimpali, begitu seterusnya. Agar hal ini bisa dilakukan, tentu kita harus menghargai pasangan, sehingga kita bisa menjalin komunikasi yang baik dan sehat untuk mewujudkan jiwa mawaddah.

  1. Pertahankan Semangat Rahmah

Rahmah berarti kasih sayang yang didasari karena Allah, bukan karena fisik yang menawan ataupun sifat yang mulia. Sebab, kasih sayang yang bersifat duniawi bukanlah rahmah, melainkan mahabbah.

Contoh rahmahadalah ketika diberi pasangan yang berpenyakit dan tidak kunjung sembuh, kemudian kita terus bersabar, tetap menyayanginya, tak pernah mengeluh atau merasa capek, dan meyakini bahwa yang kita lakukan semata[1]mata sebagai ladang amal untuk meraih surga. Inilah yang disebut sebagai rahmah, cinta yang benar-benar didasari karena Allah Swt. semata. [ ]

5

Redaksi: admin

962