Ahli Sebut AI ChatGPT Berbahaya untuk Anak, Ini Penjelasannya

0
203
ilustrasi foto: freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Kecerdasan buatan (AI) saat ini semakin canggih. Trennya meningkat pesat dengan kehadiran platform chatbot buatan OpenAI, yaitu Chat GPT.

Dengan platform kecerdasan buatan itu, para pengguna bisa saling bertukar pesan dengan robot yang ada di aplikasi tersebut.

Tak hanya itu, aplikasi ini bahkan disebut-sebut bisa membantu para siswa menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) mereka karena mampu menjawab sejumlah pertanyaan.

Meski dapat membantu para siswa, banyak orang tua yang bertanya mengenai hubungan anak dengan kecerdasan buatan ini. Pendiri Microsoft, Bill Gates, menganggap bahwa AI bisa memiliki peran besar dalam membantu perkembangan manusia dan meningkatkan pendidikan anak-anak.

Bill Gates memperkirakan bahwa pada akhir 2024, chatbots akan menjadi pengajar sebaik yang bisa dilakukan manusia mana pun dalam mata pelajaran sederhana seperti membaca dan menulis.

Akan tetapi, sejumlah ahli juga mengimbau agar orang tua berhati-hati dengan potensi risiko mengekspose anak-anak ke teknologi tersebut. Sebab, AI belum terbukti tanpa mempertimbangkan bagaimana hal itu dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan kognitif mereka.

“Kita tahu bahwa AI masih memiliki jalan panjang dalam hal akurasi,” kata Dr. Tovah Klein, psikolog anak, penulis buku How Toddlers Thrive dan direktur Barnard College Center for Toddler Development, seperti dilansir CNBC Make It dan dikutip haibunda.com.

Barnard yang juga bekerja di perguruan tinggi wanita sarjana Universitas Columbia menilai bahwa keterlibatan orang dewasa masih diperlukan untuk membantu anak belajar.

“Tentunya untuk anak-anak yang lebih kecil, untuk usia sekolah dasar (dan) anak-anak prasekolah, mereka pasti membutuhkan keterlibatan orang dewasa dalam menjelajahi periode dunia digital, apalagi dunia digital yang mungkin memiliki lebih banyak informasi yang tidak akurat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, memberikan akses alat AI kepada anak-anak tanpa izin merupakan ide yang buruk. Anak tetap memerlukan pengawasan ketat dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

Selain itu, perlu diingat bahwa sistem AI yang telah berkembang hingga mendekati tingkat kecerdasan manusia masih memiliki kecenderungan untuk menghasilkan informasi yang tidak akurat.

Tentunya, hal ini sangat rawan menimpa anak-anak usia sekolah dasar yang lebih mungkin menerima informasi sebagai fakta dari figur otoritas tanpa mempertanyakannya, ketimbang mereka yang lebih dewasa.

Bunda juga tetap harus mengawasi anak-anak ketika bermain AI karena mereka perlu memahami langkah-langkah individual dalam menyelesaikan soal matematika, daripada puas memasukkan jawaban yang benar atau salah.

AI memang terbukti bermanfaat bagi anak-anak, terutama untuk mereka yang tidak memiliki akses ke sumber daya pendidikan tatap muka. Namun, perlu diperhatikan bahwa anak-anak tak seharusnya mengandalkan mereka sebagai alat utama mereka untuk belajar. [ ]

5

Redaksi: admin

853