Wajibkah Fidyah Ibu Hamil atau Menyusui jika Tidak Puasa Ramadhan? Ini Penjelasan Ulama

0
123
ilustrasi foto: istimewa

PARENTINGISLAM.ID – – Hukum asal bagi wanita hamil atau menyusui adalah wajib berpuasa Ramadhan. Namun, kondisi wanita hamil atau menyusui itu beraneka ragam, sehingga hukumnya pun juga mengikuti kondisi yang dialaminya.

 

Kondisi Wanita Hamil Atau Menyusui Beserta Hukumnya

Pertama, wanita hamil atau menyusui yang melakukan puasa Ramadhan dengan kondisi: (1) tidak berat; atau (2) merasakan berat atau kesulitan yang wajar dan lumrah dialami serta masih kuat menjalaninya; atau (3) tidak dikhawatirkan membahayakan bayi/janinnya, maka dia tetap wajib berpuasa Ramadhan. Apabila dia nekad tidak berpuasa, padahal dia tahu hukumnya, maka dia berdosa.

Kedua, wanita hamil atau menyusui apabila berpuasa Ramadhan menyebabkan: (1) rasa berat yang tidak wajar; atau  (2) khawatir membahayakan dirinya; atau (3) khawatir membahayakan bayi/janinnya; atau (3) menurut dokter yang amanah bahwa dia disarankan untuk tidak berpuasa, maka berarti dia memiliki uzur syar’i untuk tidak berpuasa. Sehingga dia tidak berdosa jika tidak berpuasa, dan ini juga pendapat empat mazhab sekaligus: Hanafiyyah, Malikiyyah,  Syafiiyyah, dan Hanabilah.

Hukum Tidak Berpuasa Bagi Wanita Menyusui Atau Hamil Yang Merasa Berat Yang Tidak Wajar

Hukum tidak berpuasa baginya adalah afdhol, sehingga justru makruh baginya jika berpuasa. Sedangkan apabila puasanya sampai membahayakan dirinya atau janin atau bayinya, maka wajib baginya tidak berpuasa, dan haram berpuasa.

Kewajiban wanita hamil atau menyusui jika tidak berpuasa Ramadhan karena uzur syar’i hamil atau menyusui

Dalam masalah ini terdapat 7 pendapat, yaitu:

Pendapat Pertama

Apabila wanita hamil atau menyusui tidak berpuasa karena khawatir membahayakan janin atau bayi, maka dia wajib meng-qodho’ dan menunaikan fidiah. Namun, apabila dia tidak puasa karena khawatir membahayakan diri sendiri atau membahayakan diri sendiri atau janin/bayi sekaligus, maka dia wajib meng-qodho’ saja.

Ini adalah pendapat Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan Syafi’iyyah, pendapat Sufyan, serta sebuah riwayat dari Mujahid.

Pendapat Kedua

Apabila wanita hamil atau menyusui tidak berpuasa karena khawatir membahayakan diri sendiri atau janin/bayi, maka wajib qodho’ saja. Ini adalah mazhab Hanafiyyah, pendapat Al-‘Auza’i, Abu ‘Ubaid, dan Abu Tsaur

Pendapat Ketiga

Apabila wanita hamil atau menyusui tidak puasa karena uzur syar’i hamil atau menyusui, maka untuk wanita hamil wajib meng-qodho’ saja, sedangkan wanita menyusui wajib men-qodho’ dan menunaikan fidiah apabila mengkhawatirkan bayinya. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyyah.

Pendapat Keempat

Apabila wanita menyusui tidak puasa karena mengkhawatirkan bahaya, maka dia menunaikan fidiah. Sedangkan wanita hamil, jika tidak puasa karena mengkhawatirkan bahaya menimpa dirinya, maka dia meng-qodho’. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan sebuah riwayat dari Yunus bin ‘Ubaid.

Pendapat Kelima

Wanita hamil atau menyusui jika tidak puasa karena udzur syar’i hamil atau menyusui, maka bebas memilih antara menunaikan fidiah saja atau meng-qodho’ saja, ini adalah pendapat Ishaq.

Pendapat Keenam

Apabila wanita yang hamil atau menyusui tidak berpuasa karena mengkhawatirkan janin atau bayinya, maka tidak ada kewajiban qodho’ dan fidiah bagi keduanya. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm Azh-Zhahiri.

Pendapat Ketujuh

Wanita hamil atau menyusui, jika tidak puasa karena udzur syar’i hamil atau menyusui, maka wajib menunaikan fidiah saja. Ini adalah pendapat dua sahabat yang mulia, yaitu Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma serta pendapat para imam dari kalangan Tabi’iin, seperti Sa’id bin Al-Musayyib (tentang wanita hamil), Sa’id bin Jubair (tentang wanita hamil), Al-Qosim bin Muhammad (tentang wanita hamil), Atha’, Mujahid, Thawus, ‘Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i (tentang wanita hamil), As-Suddi (tentang wanita menyusui), serta selain mereka, seperti Ishaq bin Rohawaih [2]. Dan di antara ulama zaman-zaman ini adalah Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ali Hasan Al-Halabi rahimahumullah.

Pendapat Ulama Terkuat Dan Alasan Ilmiahnya

Wanita hamil dan menyusui, jika tidak puasa karena uzur syar’i hamil atau menyusui, maka wajib menunaikan fidiah saja. Sebagaimana hal ini kami sebutkan dalam pendapat ulama yang ketujuh pada artikel seri pertama.

Pendapat ini adalah pendapat terkuat dengan beberapa alasan ilmiah berikut ini:

Pertama, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 184 dengan tafsir dari pakar tafsir di kalangan sahabat, yang tafsirnya lebih diutamakan daripada ulama tafsir lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) menunaikan fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin” (QS. Al-Baqarah: 184).

Banyak ulama menyatakan bahwa ayat ini adalah tentang pria dan wanita yang sudah lanjut usia, wanita hamil dan menyusui yang berat melaksanakan puasa Ramadhan, atau khawatir pada bayi dan janinnya.

Ini adalah pendapat ulama dikalangan sahabat, yaitu Ibnu Abbas, Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, dan pendapat ulama di kalangan tabi’in, yaitu Sa’id bin Jubair, Atha’, Mujahid, Ikrimah, dan sekelompok dari tabi’in rahimahumullah [1].

Banyak ulama menyatakan bahwa ayat ini mansukh (dihapus hukumnya) dengan ayat setelahnya, yaitu surat Al-Baqarah ayat 185.

Namun demikian, di antara ulama yang menyatakan ayat ini mansukh, ada yang menyatakan bahwa bagi wanita hamil atau menyusui tetap fidiah tanpa qodho’, sebagaimana pendapat Qotadah dan Ikrimah rahimahumallah [2].

Adapun maksud petikan ayat ini adalah wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa Ramadhan, apabila mereka tidak berpuasa, untuk menunaikan fidiah, yaitu memberi makan seorang miskin. Sebagaimana ini tafsir dari pakar tafsir di kalangan sahabat, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam menafsirkan petikan ayat di atas,

من لم يطق الصوم إلا على جهد فله أن يفطر، ويطعم كل يوم مسكيناً، والحامل، والمرضع، والشيخ الكبير والذي به سقم دائم

“Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa (Ramadhan) kecuali dengan susah payah, maka dia punya uzur untuk tidak berpuasa, dan dia (berkewajiban) memberi makan seorang miskin untuk setiap hari (yang dia tidak berpuasa padanya). Demikian pula hukumnya (orang-orang yang berat berpuasa seperti) wanita hamil dan menyusui, orang lanjut usia, serta orang yang sakit terus menerus” [3].

Dalam riwayat lainnya yang sanadnya sahih [4], Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma melihat wanita yang hamil atau menyusui lalu berkata,

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّذِي لَا يُطِيقُهُ، عَلَيْكِ أَنْ تُطْعِمِي مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْكِ

“Engkau seperti kedudukan orang yang tidak mampu puasa, maka wajib bagimu untuk memberi makan (fidiah) satu orang miskin untuk satu hari (yang Engkau tidak berpuasa padanya), dan tidak ada qodho’ bagimu”

Dan riwayat sahih, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

رخص للشيخ الكبير، والعجوز الكبيرة في ذلك وهما يطيقان الصوم أن يفطرا إن شاءا، ويطعما كل يوم مسكينا، ولا قضاء عليهما، ثم نسخ ذلك في هذه الآية: ﴿فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾ [البقرة: 185]، وثبت للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة إذا كانا لا يطيقان الصوم، والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا، وأطعمتا كل يوم مسكينا

“Diberi keringanan bagi pria dan wanita yang lanjut usia dalam hal itu – sedangkan keduanya mampu puasa – untuk tidak berpuasa jika keduanya mau dan memberi makan (fidiah) satu orang miskin untuk satu hari (yang tidak berpuasa padanya), dan tidak ada kewajiban qodho’ bagi keduanya. Lalu (ketentuan ini) di-mansukh dengan ayat,

﴾ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ﴿,

Dan hukumnya tetap berlaku (yaitu, menunaikan fidiah) bagi pria dan wanita lanjut usia apabila keduanya tidak mampu puasa, serta wanita hamil dan menyusui yang khawatir (terhadap janin atau bayinya), maka keduanya (mendapatkan uzur) tidak berpuasa dan (wajib) memberi makan (fidiah) satu orang miskin untuk satu hari (yang keduanya tidak berpuasa padanya).”

Riwayat lain yang sanadnya sahih, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إِذَا خَافَتِ الحَامِلُ عَلَى نَفْسِهَا وَالمُرْضِعُ عَلَى وَلَدِهَا فِي رَمَضَانَ

“Apabila wanita hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita menyusui mengkhawatirkan bayinya di bulan Ramadhan.”

يُفْطِرَانِ، وَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلَا يَقْضِيَانِ صَوْمًا

“Keduanya (memiliki uzur untuk) tidak puasa dan (wajib) memberi makan untuk setiap hari (yang keduanya tidak berpuasa) kepada satu orang miskin dan keduanya tidak usah meng-qodho’ puasa” [5].

Dalam riwayat sahih dari Ad-Daruquthni, Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

الحَامِلُ و المُرْضِعُ تفطر وَلَا تَقْضِي

“Wanita hamil dan menyusui itu (memiliki uzur syar’i) untuk tidak berpuasa dan tidak ada kewajiban meng-qodho’” [6].

Dalam riwayat lainnya, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada istrinya yang sedang hamil,

أَفْطِرِي وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَا تَقْضِي

“Berbukalah dan berilah makan (fidiah) untuk setiap hari (yang Engkau tidak berpuasa) kepada satu orang miskin dan Engkau tidak usah meng-qodho’” (HR. Ad-Daruquthni, dengan sanad jayyid) [7].

Apakah tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memiliki hukum marfu’?

Imam As-Suyuthi rahimahullah dalam Al-Itqon fi ‘Ulumil Qur’an bahwa tafsir seorang sahabat yang terkait dengan sebab diturunkannya Al-Qur’an (sababun nuzul) itu dihukumi dengan hukum khabar yang marfu’. Kaidah ini juga ma’ruf (dikenal) di kalangan ahli hadits.

Sedangkan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,  demikian pula riwayat sahih tafsir yang semisal dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, kedua tafsir ini dihukumi marfu’ karena sababun nuzul [8].

Mana yang didahulukan, seandainya tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertentangan dengan sahabat lainnya?

Az-Zarkasi rahimahullah berkata dalam Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an,

إن تعارضت أقوال جماعة من الصحابة، فإن أمكن الجمع فذاك، وإن تعذر؛ قُدِّم ابن عباس رضي الله عنهما؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم بشّره بذلك حيث قال: (اللهم علمه التأويل)

“Apabila ucapan sekelompok sahabat saling bertentangan, jika bisa digabungkan, maka digabungkan. Namun jika hal itu tidak memungkinkan, maka didahulukan ucapan (tafsir) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira tentangnya, dengan bersabda, ‘Ya Allah, ajarkanlah kepadanya (Ibnu Abbas) ilmu tafsir.’” [ ]

Sumber: muslim.or.id

5

Redaksi: admin

947