Kapan Saat Yang Tepat Harus Memberi Dan Tidak Memberi ? Ini Simak Ini Waktu Yang Pas.

0
145
ilustrasi foto: freepik

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim*

PARENTINGISLAM.ID – – Kapan saat harus memberi? Anak itu menangis keras-keras. la meminta uang kepada ibunya untuk membeli es krim di toko seberang. Tapi sang ibu tak kunjung memberi. Kata ibu, sekarang sedang tidak ada uang.

“Mama bohong. Mama pelit,” teriak anak itu sembari berlari menuju kamar ibunya. Melihat itu, ibu segera sigap, berusaha mencegah anaknya. “Hei, mau kemana??!! Nggak boleh nakal begitu.”Kapan Saat Harus Memberi

Sebuah drama yang sempurna. Di saat sedang berkutat dengan anaknya, seorang kawan lama datang. Kawan yang sangat baik dan akrab. Bersemangat sekali ia menyambut kedatangan kawannya ini. Penuh kehangatan. Bersemangat pula ia menceritakan betapa nakal anak-anaknya. lnilah salah satu sisi yang absurd; sulit dimengerti dari ibu-ibu. Mereka kerap menceritakan kenakalan anak sehingga anak merasa malu, tapi merasa dongkol manakala ada yang menceritakan bahwa anaknya nakal.

Belum selesai cerita, anaknya menangis keras-keras. Kali ini disertai teriakan yang lebih lantang, “Mama, beliin es krim. Uangnya, Ma…!”

Cepat-cepat ia beranjak dari ruang tamu menuju ruang tengah menemui anaknya. Betapa malu ia pada sahabat lamanya demi mendengar teriakan anak yang berontak meminta uang. Tangan sudah siap mencubit, sementara wajah sudah siap untuk tampil lebih menyeramkan.

“Kamu jangan nakal begitu, dong. Malu didengar tamu,” bentak sang ibu dengan suara setengah berbisik. Tak lupa, cubitan keras melayang ke lengan anaknya.

“Aduh. Aduh… Mama nakal. Mama jahat. Mama suka mencubit,” teriak si anak lebih keras lagi, “Mama pelit..!!! Es krim, Ma..”

Tak tahan, sang ibu segera memberi uang. Bukan dari dompet kosong yang tadi ditunjukkan pada anaknya, tetapi dari balik saku yang lain.

“Ini. Cepat pergi. Beli es krim sana!” kata ibu sewot berusaha menahan marah. Anaknya menerima uang dengan kegirangan sembari menyeka airmata yang berhenti tiba-tiba, seiring berhentinya tangis. Sebuah kemenangan yang sempurna. Sebuah pelajaran tentang teknik memaksa orangtua, baru saja ia peroleh dari ibunya.

Pelajaran lainnya adalah tentang bagaimana berbohong yang efektif. Ini sekaligus mengajarkan anak untuk tidak mudah percaya kepada ucapan-ucapan ibunya, termasuk nasihat dan perintah yang diberikan kepadanya.

Banyak orangtua yang memilih untuk segera memperoleh ketenangan saat itu juga demi dapat tersenyum manis pada tamu, daripada menunggu anak menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) untuk masa-masa berikutnya yang jauh lebih panjang, sejak nafas masih di dada hingga amalan diperhitungkan di Mahkamah Allah.

Pertanyaannya sekarang, kapan orangtua perlu memberi dan kapan orangtua seharusnya menolak permintaan anak? Apakah orangtua seharusnya selalu memberi hadiah setiap kali anak melakukan tugas-tugas penting, baik atas suruhan orangtua maupun atas inisiatif anak sendiri?

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak tetap meronta menangis sebagaimana contoh yang kita baca, padahal orangtua telanjur mengatakan tidak punya uang? Padahal adakalanya alasan tidak punya uang sungguh tidak dapat diterima anak lantaran anak tahu betul bahwa keadaannya tidak demikian.

Wallahu a’lam bish-shawab.

tidak tahu persis apa saja yang perlu kita perhatikan. Hanya pada Allah Ta’afa pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu. Sejauh yang mampu saya ketahui, ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan:

TIDAK TERLALU KIKIR

Sikap terlalu pelit tidak menga-jarkan anak untuk berhemat. Justru sebaliknya, ini dapat mendorong anak melakukan berbagai tindakan nakal.

Kikir berangkat dari perasaan sayang terhadap harta, sehingga sulit melepaskannya sekalipun kepada anak sendiri. Sedangkan hemat berdiri di atas sikap mempertimbangkan maslahat dan madharat, perencanaan anggaran untuk perekonomian diri sendiri maupun keluarga, maupun penetapan skala prioritas untuk memilih yang terpenting dari yang penting, menjauhkan yang paling tidak penting di antara yang tidak penting.

Semua ini merupakan tuntutan atas seseorang yang sudah mencapai taklif karena salah satu syarat taklif adalah ‘aqil baligh. Sedangkan kemampuan men-tasharuf-kan harta merupakan salah satu kecakapan yang dituntut bagi seorang yang sudah mencapai ‘aqil-baligh.

Sikap kikir orangtua mengakibatkan beberapa dampak bagi anak. Ini dapat dialami seluruhnya oleh anak, dapat pula sebagian saja. Salah satu dampak yang mungkin timbul adalah kecenderungan anak untuk bersikap foya-foya untuk kesenangan diri sendiri. Ia belajar mengembangkan sikap mengambil keuntungan dari setiap kesempatan.

Ia memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada untuk memperoleh kemudahan dari orangtua, sehingga ia dapat bersenang-senang tanpa perlu berpikir bagaimana berjuang memperoleh kenikmatan itu semua.

Sikap pelit orangtua juga dapat mendorong anak untuk melakukan tindak kriminal semisal mencuri. Awalnya, ia belajar mencuri harta orangtua secara diam-diam. Selanjutnya, dapat berkembang menjadi tindakan pencurian disertai kekerasan. Mulanya kekerasan terhadap saudara dan adik yang mengetahui, berikutnya… na’uzubillahi min zaalik.

Khusus tentang pencurian yang dilakukan oleh balita, kita perlu berhati-hati menilai. Balita terlebih yang usianya baru 2 tahunan—banyak yang belum memahami konsep harta, meskipun sebagian anak

yang sudah berusia 3 tahun sudah mampu memahami. Mereka sulit membedakan milik sendiri dan milik orang lain. Karena itu, kita tidak dapat serta merta menyebutnya mencuri manakala ada balita mengambil milik orang lain, meskipun orangtua tetap perlu meluruskan dengan lemah-lembut. Perilaku mengambil milik orang lain merupakan hal yang wajar bagi balita, terutama bagi yang belum mengerti.

Akibat lainnya, anak belajar memaksa orangtua. la belajar mengembangkan cara memaksa karena tahu bahwa orangtua memiliki sekaligus mampu memberikan apa yang ia inginkan. la belajar membantah dan bersikap tidak baik kepada orangtua. Ia pun dapat mengembangkan sikap tidak percaya kepada orangtua. Na’uzubillahi min zaalik.

Boleh jadi ketiga hal tersebut tidak tampak saat anak di rumah mengingat hukuman yang mengancam begitu menakutkan anak. Tetapi anak bukan hanya berada di kamar ibunya. Ia juga mempunyai lingkungan dimana ia berkembang bersama-sama dengan orang lain. Di sinilah ia dapat melakukan tindakan-tindakan nakal, misalnya mencuri. Apalagi jika ada teman yang memiliki kecenderungan serupa.

Alhasil, sikap terlalu kikir sebaiknya dijauhi. Permintaan anak, sejauh wajar dan tidak membawa madharat, dapat dipenuhi oleh orangtua, kecuali jika memang tidak mampu. Orangtua hendaklah memberi tanpa banyak syarat dan beban.

Tetapi, ada saat-saat dimana orangtua perlu mengekang dan tidak menuruti permintaan anak agar ia dapat belajar menahan diri dari berbagai keinginan yang tidak penting. Juga, agar anak dapat belajar menetapkan skala prioritas kebutuhan yang perlu segera dipenuhi. Tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui.

Pengekangan maupun pengaturan uang jajan anak juga perlu dilakukan secara terencana dalam rangka mendidik mereka menuju taklif. Kita ingat, salah satu kecakapan pada masa taklif adalah kemampuan membelanjakan harta secara bertang-gung jawab. Pengekangan, pengaturan atau bahkan pembebasan pada waktu tertentu dalam memberi uang jajan kepada anak dapat menjadi pendidikan bagi anak.memberi

Terlalu mengekang dapat membuat anak bukannya belajar berhemat, tapi justru liar tak terkendali begitu ia memperoleh kesempatan. Sebaliknya, membebaskan anak tanpa kendali dapat menjadikan anak tidak mampu menakar prioritas dan mengendalikan keinginan. Ini dapat menjadi bom waktu bagi anak. Pemicu afluenza yang diderita anaknya orang-orang super kaya, bukanlah karena orangtua mereka yang kaya-raya, tetapi karena lemahnya pendidikan untuk mengendalikan hasrat, keinginan dan daya juang mereka. Anak-anak itu menjadi lemah justru karena tidak memperoleh pengalaman mengendalikan keinginan.

MEMBERI TANPA DIMINTA

Ada saat-saat orangtua perlu memberi tanpa menunggu anak meminta. Ada pula saat-saat orangtua perlu menahan diri untuk tidak memberi, meskipun anak meminta. Memberi tanpa diminta menunjukkan tulusnya kasih-sayang orangtua kepada anak. Ia memberi bukan sebagai “imbalan” bersebab anak telah melakukan sesuatu. Ia melakukan itu untuk anaknya semata-mata karena rasa sayangnya kepada anak. Adakalanya, ini perlu kita lakukan untuk menunjukkan kepada anak bahwa kita mencintai mereka tanpa pamrih.

Berilah anak saat ia sedang bermain, misalnya. Atau ketika ia sedang santai membaca. Kita memberi tanpa diminta pada saat yang tak terduga. Tetapi, batasi kapan memberi uang tanpa diminta. Apalagi jika saat anak meminta, kita sering menolaknya. Tetapi saat tak meminta, kita kerap memberinya tanpa diduga-duga. Rangkaian kejadian semacam ini dapat merancukan persepsi anak tentang orangtua.

Kita juga dapat memberikan uang dalam jumlah lebih banyak, semisal

setelah berdialog dengan anak tentang apa yang akan ia lakukan dengan uang, apa hal penting yang ingin diperoleh anak jika mempunyai cukup uang. Salah satu anak saya yang masih SD kelas bawah misalnya, memiliki keinginan besar untuk berkurban kambing saat Idul Adha. la mulai menabung. Ini merupakan tekad yang baik. Kita dapat memberikan uang lebih banyak untuk ia tabung. Ini jauh lebih mendidik daripada kita tahan tekadnya dengan menjanjikan untuk membelikan kambing kurban saat Idul Adha nanti.

Jadi, kapan saja sebaiknya kita memberi tanpa diminta? Kapan pula kita perlu menolak permintaan anak? Tanyakanlah pada hati Anda. Kenalilah anak Anda dalam urusan ini.

MEMBERI DENGAN AMANAH

Memberi uang kepada anak dapat menjadi sarana mendidik anak menuju taklif (dewasa dan bertanggung jawab secara syar’i), baik berkait bebanan syariat maupun kepatutan akhlak.

Kita menyiapkan mereka untuk mampu mentasharrufkan harta, yakni mengelola keuangan sesuai tuntutan syariat. Pada saat kita memberi uang kepada anak-anak kita, mereka perlu belajar menakar kebutuhan serta membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Boleh memenuhi keinginan, tetapi harus tetap terkendali. Ada tanggung jawab yang harus mereka tunaikan, ada pula kepedulian yang harus mereka miliki. Kesadaran dan keinginan membantu kerabat dekat serta saudara seiman di berbagai belahan bumi ini perlu kita tanamkan pada diri mereka.

Pada awalnya, kita dapat melatih mereka mengatur uang dengan memberi mereka uang bekal saat sekolah. Kita memang dapat membawakan mereka bekal berupa makanan, termasuk snack yang mereka sukai. Tetapi ini tidak memberinya pengalaman untuk mengatur keuangan. Selain itu, meski tampaknya anak tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk belanja makanan, tetapi sebenarnya bisa lebih boros karena total pengeluaran orangtua untuk keperluan itu sangat mungkin jauh lebih tinggi daripada jika anak ke sekolah dengan membawa uang saku.

Alangkah cantik apabila sekolah juga turut berperan mendidik dan melatih murid-muridnya agar mengen-dalikan keinginan, belajar mengatur keuangan dan mampu berhemat. Ini akan sangat mungkin dilakukan apabila sekolah dan kantin merupakan satu kesatuan. Sekolah dapat menerapkan kebijakan “Hari Berhemat” dengan mengendalikan jumlah belanja anak. Bukan dengan membawa bekal dari rumah. Tidak membawa uang saku tetapi membawa bekal, boleh jadi jauh lebih menyenangkan buat anak karena nilai belanjanya lebih besar dibanding hari biasa. Ini berarti, pada “Hari Berhemat” anak justru melaku-kan pemborosan tersembunyi, yakni tampaknya tak berbelanja, tetapi sebenarnya mendapatkan jauh lebih banyak daripada hari biasa.

Karena itu, selain menentukan batasan jumlah uang saku, sekolah melalui guru juga perlu mengenali kebiasaan berbelanja murid-muridnya. Guru dapat melakukan dialog dengan anak-anak untuk memperoleh gambaran sekaligus melakukan internalisasi nilai. Kerap terjadi, anak hanya menjalani program sekolah, tetapi tidak dapat menghayati dan mengambil pelajaran darinya.

Kita dapat mengajak anak melakukan simulasi sederhana berapa uang yang dapat ia tabung selama sebulan jika ia hanya menggunakan setengah dari uang sakunya. Berapa yang terkumpul dalam setahun, dan kebaikan apa yang dapat ia perbuat dengan uang yang ia kumpulkan. Jika anak belum memiliki itsar (altruisme) yang kuat, ia lebih mudah diajak merencanakan benda bermanfaat yang dapat ia beli dari tabungan uang saku.

Tetapi apabila anak telah memiliki kepedulian, menabung untuk berbagi atau melakukan kebaikan lain pun akan mudah. Anak kelas satu SD pun dapat kita ajak mengurangi jajan untuk berbagi dengan yang memerlukan jika sejak kecil telah tumbuh kecintaannya pada berbagi.

Pada tahap awal, kita menjelaskan secara bertahap kepada anak tentang pentingnya mentasharrufkan harta dengan benar. Kita dapat mengajak anak berbincang dan berbagi cerita. Pengalaman anak saat di sekolah, misalnya kehabisan uang saku ketika pelajaran olahraga, merupakan hal berharga yang dapat menjadi bahan diskusi.

Selanjutnya, kita dapat melatih anak untuk mengelola uang dalam jumlah lebih besar dalam rentang waktu lebih lama. Misal, memberikan uang saku sekaligus untuk dua hari. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi anak. Jika anak sudah mampu, kita dapat memberikan uang saku tiga hari sekali atau seminggu sekali dan pada akhirnya bisa sebulan sekali. Yang jelas, kita perlu memperhatikan kemampuan anak. Jika tampak belum mampu, kita dapat menunda sampai anak siap. Selain itu, kita perlu mengimbangi dengan sikap tegas, bahkan sesekali mengetati uang saku. Untuk sementara waktu, orangtua menahan diri tidak memberi uang saku ataupun tambahan uang saku.

Bagaimana dengan pilihan tidak memberikan uang saku kepada anak, tidak pula membekali mereka berbagai makanan atau hanya sesekali membekali? Tidak masalah sejauh anak telah memiliki ‘iffah (penjagaan diri, kemampuan menahan diri untuk menjaga kehormatan/’izzah) sehingga mereka tidak meminta-minta kepada temannya, tidak pula memandang penuh harap saat temannya menikmati makanan. Wallahu a’lam. [ ]

Sumber: majalahhidayatullah.com

5

Redaksi: admin

839