Menghormati Hak Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orangtua

0
235
Dalam pandangan Islam kehadiran anak bukan sekedar generasi penerus (foto: pixabay)
Dalam pandangan Islam kehadiran anak bukan sekedar generasi penerus (foto: pixabay)

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim* 

PARENTINGISLAM.ID – – Bagaimana sikap Rasulullah ﷺ terhadap anak? Secara ringkas, saat bercanda sebagai teman, saat bertutur menjadi guru, dan terhadap hak anak Rasulullah ﷺ menjadi pelindung dan penjaga.

Melalui tindakan dan ucapannya, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bagaimana menghormati hak anak. Barangkali inilah yang membuat anak-anak di masa Rasulullah ﷺ mudah menerima kebenaran, ringan mendengarkan nasehat dan ketika dewasa tidak sibuk mendahulukan hak.

Mereka bersegera melaksanakan kewajiban karena di masa kecil mereka selalu dijaga haknya. Marilah kita ingat peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Dari Sahabat Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berkata;

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِشَرابٍ ، فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلاَمٌ ، وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ ، فَقَالَ لِلْغُلاَمِ : أَتَأْذَنُ لِيْ أَنْ أُعْطِيَ هؤُلَاء ِ؟ فَقَالَ الْغُلَامُ : لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، لَا أُوْثِرُ بِنَصِيْبْيْ مِنْكَ أَحَداً . فَتَلَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ يَدِهِ

Rasulullah ﷺ dihidangkan minuman. Lalu beliau pun meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri beliau ada sekumpulan orang-orang tua. Lalu beliau bertanya kepada anak kecil tersebut, “Apakah Engkau mengizinkanku untuk memberikan sisa minumku ini kepada mereka yang di sana (para orang tua)?” Anak kecil tersebut menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mendahulukan mereka atas sisa minumanmu yang sudah menjadi bagianku.” Lalu Rasulullah ﷺ pun meletakkan minuman tersebut ke tangan sang anak.” (HR: Al-Bukhari dan Muslim).

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari hadis ini? “Rasulullah ﷺ memelihara hak si anak dengan menyuguhkan minuman terlebih dahulu kepadanya karena ia berada di samping kanan beliau,” kata Najib Khalid Al-‘Amr menuturkan dalam Min Asaalibir Rasul Fit Tarbiyah.

“Ini adalah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam jajaran para orangtua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah ﷺ akan bertambah dan keimanan kepada risalah beliau akan semakin kokoh,” kata Najib Khalid Al-‘Amr menambahkan, “Dari sinilah potensi kreativitas¬nya akan berkembang dalam naungan dakwah beliau.”

Cara bersikap seperti ini membuat anak merasa berharga. Ia memiliki citra diri yang baik. Tidak menganggap dirinya buruk, tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber ketakutan.

Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Rasa percaya diri yang sangat besar seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orang¬tua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Alfie Kohn, seorang psikolog sekaligus penulis buku Unconditional Parenting, menun¬jukkan bahwa cinta yang tulus lebih efektif untuk mengasuh, mengarahkan, mendidik dan mendorong anak untuk lebih bertanggung-jawab. Jika Anda ingin anak-anak lebih hormat kepada Anda beserta apa yang Anda katakan, tumbuhkanlah kepercayaan mereka kepada Anda. Caranya? Cintailah mereka sepenuh hati dengan tulus. Tanpa syarat.

Selain itu, anak-anak akan memperhatikan kata-kata Anda. Jika Anda berbohong ke¬padanya, anak tidak akan percaya kepada setiap perkataan Anda, sekalipun itu nasehat yang paling baik. Padahal tanpa kepercayaan, bagaimana mungkin anak-anak akan tergerak untuk melakukan apa yang kita inginkan?

Di sinilah kita bisa memahami mengapa Rasulullah ﷺ sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya, kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.

Ingatlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda, “Cintailah anak-anak dan kasih-sayangi¬lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka keta¬hui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. Bukhari).

Selain tentang seruan untuk melimpahkan cinta dan kasih-sayang kepada anak, ada dua hal yang perlu kita renungkan dari hadis tersebut. Yang pertama berkait dengan sabda Nabi ﷺ, “Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” Ini mengingatkan saya pada teori psikologi agama yang menunjukkan bahwa keyakinan –bukan pengetahuan—kepada Tuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman anak berhubungan dengan orangtua.

Mereka yang memiliki orangtua pelit, tidak konsisten dan tidak memiliki prinsip dalam mengasuh anak, cenderung menjadi pribadi yang sulit membangun keyakinan sangat kuat terhadap sifat pemurah Allah Ta’ala meskipun pengetahuannya tentang hal tersebut sangat luas. Wallahu a’lam bishawab.

Kedua, menepati janji. Ini merupakan bagian dari berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Inilah satu dari dua kunci mendidik anak yang ditunjukkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 9. Allah berfirman:

وَلۡيَخۡشَ الَّذِيۡنَ لَوۡ تَرَكُوۡا مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوۡا عَلَيۡهِمۡ ۖفَلۡيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡيَقُوۡلُوا قَوۡلًا سَدِيۡدًا‏

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS: Surat An-Nisaa’ ayat 9).

Bagaimana kalau kita melakukan hal-hal yang kurang baik? Jika kita benar-benar berusaha untuk selalu berkata jujur kepada anak, sementara kita tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka, maka insyaAllah kejujuran akan menuntun kita untuk ber¬benah.

Ada dorongan dari dalam diri kita untuk terus memperbaiki diri agar bisa menjadi contoh yang layak bagi mereka. Kalau tidak, kita akan berhadapan dengan dua kemungkinan.

Pertama, lidah kita kelu ketika berbicara kebaikan dan kebenaran kepada anak disebabkan dua hal tersebut tidak melekat pada diri kita. Kedua, kita berbohong kepada mereka untuk menutupi keburukan, sehingga kita justru melanggar apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’ ayat 9.

Padahal berkata yang jujur (qaulan sadiida) merupakan kunci untuk melahirkan generasi yang kuat dan tidak mengkhawatirkan. Wallahu a’lam bishawab.

Inilah di antara hikmah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida) kepada anak. Secara keseluruhan, berbicara yang benar akan membawa kita pada kebaikan. Allah ‘Azza Jalla akan membaguskan amal-amal kita dan mengampuni dosa kita. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS: Al-Ahzab, 33: 70-71).

Jika berkait dengan tugas kita sebagai orangtua, kesungguhan untuk berkata yang benar akan mendorong kita terus berbenah, sehingga kapasitas pribadi kita sebagai orangtua akan lebih baik dari waktu ke waktu.

Selebihnya, saya hanya ingin menggaris-bawahi tentang betapa pentingnya anak-anak memperoleh pengalaman bagaimana hak-haknya dimuliakan, dijaga dan dipenuhi oleh orangtua. Ada amanah yang harus kita pertanggung-jawabkan kelak di yaumil-qiyamah, termasuk bagaimana menghormati hak yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya bagi anak-anak kita. Wallahu a’lam bishawab.[ ]

Sumber: hidayatullah.com

5

Redaksi: admin

920