Pentingnya Mengenal Bipolar pada Anak, Ini Cara Dideteksi Sejak Dini

0
19
ilustrasi foto: freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Bunda pasti sudah tak asing mendengar kata bipolar. Belakangan, kasus orang yang mengidap bipolar kembali ramai dibicarakan.

Setelah beberapa publik figur mengungkap bahwa dirinya mengalami bipolar, tak sedikit orang bertanya-tanya seputar kesehatan mentalnya. Bahkan, banyak orang tua mulai aware terhadap kondisi mental anak-anaknya.

Berbicara mengenai bipolar, ternyata gangguan mental satu ini bisa terdeteksi sejak masa kanak-kanak, Bunda. Tanda-tanda seperti apa saja yang perlu diwaspadai orang tua?

Apa sih bipolar?

Sebelum membahas lebih jauh bipolar pada anak, Bunda perlu memahami dulu definisi serta faktor pemicunya ya.

Bipolar berasal dari kata ‘bi’ yang berarti dua, dan ‘polar’ yang artinya kutub. Bipolar adalah dua kutub berbeda, diartikan sebagai mood yang dapat berubah menjadi tinggi lalu tiba-tiba rendah.

Dalam dunia medis, bipolar adalah gangguan mood kronis yang disebabkan masalah di neurotransmiter atau ketidakseimbangan kimiawi saraf di otak. Pada seseorang yang didiagnosis bipolar, koneksi di saraf, terutama di otak bagian tengah, mengalami masalah yang menyebabkan perubahan mood secara drastis.

Angka Bipolar Di Indonesia

Secara epidemiologi, prevalensi kasus bipolar di Indonesia cukup banyak ditemukan, yakni sekitar 10 sampai 20 persen. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan bipolar sama atau tidak ada perbedaan berarti.

Menurut ulasan di jurnal, sekitar 1 dari 100 orang dapat terkena bipolar. Gangguan ini dapat dideteksi mulai dari usia remaja, yakni 14 sampai 19 tahun.

Penyebab Dan Pemicu Bipolar

Sampai saat ini, penyebab bipolar belum diketahui secara pasti. Namun, banyak pakar mengatakan bahwa gangguan mood kronis ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan di neurotransmiter.

Meski begitu, bipolar dapat diturunkan secara genetika dalam keluarga. Pemicunya dapat disebabkan karena faktor ekonomi, masalah rumah tangga, dan lainnya.

Gejala Bipolar

Gejala gangguan mood ini akan muncul tergantung dengan episode yang dialami seseorang yang didiagnosis bipolar. Berikut 2 tipe atau episode dalam bipolar serta gejalanya:

 

  1. Episode Depresi

Depresi dapat menjadi salah satu gejala dan episode dalam bipolar. Depresi pada bipolar berbeda dengan depresi murni (depresi mayor).

Orang yang didiagnosis bipolar cenderung suka berubah mood-nya. Sementara pada depresi mayor, mood tidak berubah.

Berikut gejala bipolar pada episode depresi:

  • Sering merasa sedih atau tidak Bahagia

  • Gangguan tidur dan makan

  • Muncul perasaan bersalah

  • Penurunan konsentrasi

  • Muncul rasa putus asa hingga keinginan untuk bunuh diri

  1. Episode manik

Pada episode manik ini, seseorang yang didiagnosis bipolar akan mengalami gejala:

  • Perilaku berubah menjadi aneh

  • Sering berhalusinasi

  • Paranoid

  • Mudah curiga tapi berbeda dengan tanda skizofrenia

  • Merasa punya banyak ide, tapi tak satu pun bisa dieksekusi dengan baik

  • Bertindak impulsif

  1. Fase campuran

Selanjutnya, ada beberapa orang bipolar yang mengalami episode campuran, yaitu gabungan fase manik dan depresi. Ada kalanya dari fase manik berubah drastis ke fase depresi atau sebaliknya. Jadi, orang dengan bipolar fase ini akan mengalami perubahan mood yang sangat cepat.

Diagnosis Bipolar

Tidak mudah untuk mendiagnosis bipolar, Bunda. Psikolog atau psikiatri umumnya akan mendiagosis setelah setahun melihat perkembangan pasien.

Seseorang yang dicurigai bipolar akan diberikan pertanyaan terkait muncul atau tidaknya episode maniak dan depresi selama setahun terakhir. Pada akhirnya, psikolog atau psikiatri dapat melihat tanda depresi murni atau mengarah ke bipolar.

Perlu diketahui, seseorang dengan bipolar dapat berada dalam kondisi normal selama berbulan-bulan, sebelum kembali muncul episode depresi atau maniak.

Nah, untuk mendiagnosis, ahli akan memberikan tes kuesioner sebagai alat bantu. Selain itu, ada pula wawancara dengan pasien dan kerabat terdekatnya.

Bipolar Pada Anak

Bipolar dapat terjadi pada anak, meski sulit untuk dideteksi sejak dini. Sebab, pada masa kanak-kanak masih terjadi perubahan pada perkembangan mental, sehingga sulit untuk menilai perasaan anak.

Kebanyakan tanda-tanda bipolar mulai bisa dideteksi saat anak masuk usia remaja atau 14 tahun. Namun, Bunda dapat lebih waspada bila ada riwayat bipolar di keluarga.

Nah, berikut 4 tanda atau hal yang perlu diwaspadai terkait bipolar pada anak dan remaja:

  • Munculnya perubahan emosional atau mood anak cepat berubah.

  • Aktivitas anak terganggu, termasuk kegiatan belajar dan tidur.

  • Kinerja dan produktivitas anak menurun.

  • Memiliki masalah di kehidupan sosialnya atau sulit beradaptasi.

Bila yang muncul hanya perubahan emosional tanpa gangguan lain, Bunda tidak bisa langsung mengatakan anak terkena bipolar ya. Bipolar biasanya ditandai dengan terganggunya aktivitas anak di semua aspek kehidupan.

Pentingnya Peran Orang Tua

Bipolar pada masa remaja dapat dicegah dengan menerapkan pola asuh yang baik, Bunda. Penting bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan dalam merawat anaknya.

Selain itu, orang tua juga perlu membangnun hubungan emosional dan komunikasi yang baik dengan buah hati. Ayah dan Bunda juga jangan terlalu membatasi kehidupan sosial anak, supaya dia bisa beradaptasi dengan lingkungannya.

Selama masa pertumbuhan, dampingi anak untuk melalui tahapan ini. Berikan dia kasih sayang agar mood-nya terjaga dengan baik ya, Bunda.

Penanganan Bipolar

Bipolar dapat ditangani oleh psikolog dan psikiatri, Bunda. Psikologi akan membantu mengubah mindset dan mengendalikan mood dengan psikoterapi. Sedangkan psikiatri akan memberikan terapi obat-obatan untuk mengelola mood anak yang berubah-ubah.

Peran psikolog dan psikiatri sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan terapi pasien bipolar. Dalam kondisi yang sudah stabil secara emosional, pasien bipolar akan mudah ditangani dengan terapi obat-obatan, begitu pun sebaliknya.

Ibu Hamil Alami Bipolar Wajib Rutin Kontrol, Bisa Pengaruhi Otak Janin

Terapi obat dibutuhkan bagi pengidap bipolar yang sudah mengalami kesulitan melakukan aktivitas fisik. Namun, bagi mereka yang masih bisa mengontrol tekanan dengan baik, terapi obat mungkin dapat diganti dengan praktik mindfulness.

Untuk evaluasi, seorang pengidap bipolar sebaiknya terus melakukan evaluasi rutin ke psikolog dan psikiatri. Evaluasi dilakukan untuk mengontrol mood agar stabil dan bisa beraktivitas dengan baik di kehidupan sosialnya.

Bipolar yang tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi pada fungsi otak dan tubuh (fisik). Komplikasi ke otak dapat menciptakan pikiran negatif, seperti keinginan untuk bunuh diri, Sedangkan dampak secara fisik adalah munculnya gangguan tidur, perilaku menyakiti diri sendiri, serta lingkungan sekitarnya. [ ]

Sumber: haibunda.com

5

Redaksi: admin

943

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini