Mengapa Awal Ramadhan Bisa Beda? Ini Yang Perlu Dijelaskan Pada Anak

0
264
Dalam Islam, kesuksesan bukan hanya diukur dari banyaknya materi tetapi dari shaleh shalehahnya anak (ilustrasi foto: freepik)

PARENTINGISLAM.ID – –  Untuk kesekian kalinya masyarakat muslim khususnya di Indonesia tidak kompak dalam menentukan atau memulai awalan Ramadhan 1443 H / 2022 ini . Sebagian umat Islam ada yang mulai berpuasa pada Sabtu (2/4/2022), sementara sebagian lain, sesuai hasil sidang Isbat yang digelar pemerintah, mulai berpuasa pada Ahad (3/4/2022).

Perbedaan ini merupakan sebuah realita yang juga menjadi kekayaan khazanah keilmuan kita. Karenanya, perbedaan ini meski disikapi secara arif dan bijaksana. Lalu mengapa sampai ada perbedaan awal Ramadhan?

Perbedaan pendapat ini terjadi karena adanya beda dalam memahami nash (dalil) dan metode pengambilan hukumnya (istinbath). Dihimpun dari berbagai sumber berikut ini yang perlu dijelaskan kepada anak-anak.

 

  1. Ada Yang Menggunakan Metodologi Hisab (Wujudul Hilal).

Ada sebagian ormas Islam yang mengaplikasikan secara independen metodologi hisab (Wujudul Hilal). Secara hisab, posisi hilal di wilayah Indonesia berada pada ketinggian antara 1 sampai 2 derajat. Artinya, hilal sudah di atas ufuk, sehingga secara Hisab Wujudul Hilal, 1 Ramadan jatuh pada 2 April 2022.

  1. Ada Yang Menggunakan Metodologi Rukyah (Rukyatul Hilal).

Ada juga sebagian ormas Islam yang menggunakan metode Rukyatul Hilal yakni dengan melihat langsung posisi bulan pada akhir bulan. Meski mereka juga melakukan penghitungan secara astronomis (hisab), namun keputusannya masih menunggu hasil pemantauan hilal.

  1. Ada Yang Menggunakan Metodologi Gabungan Hisab dan Rukyat

Sementara pemerintah, sesuai fatwa MUI No 2 tahun 2004, menggunakan keduanya, hisab dan rukyatul hilal. Hasil perhitungan hisab digunakan sebagai informasi awal, dan selanjutnya dikonfirmasi melalui mekanisme rukyat.

Hasil hisab dan rukyat selanjutnya dibahas bersama dengan ormas Islam, duta besar negara sahabat, serta para pakar dalam Sidang Isbat. Selain itu, sebagai penengah, pemerintah juga terus menginisiasi penggunaan metode “imkaan al-ru’yah” dan terus mensosialisasikan hal ini kepada seluruh ormas.

Perbedaan pendapat dalam Fikih itu biasa, sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Meski demikian, dalam masalah yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, semestinya keputusan pemerintah menjadi solusi untuk ditaati. Apalagi jika hal tersebut berpeluang mengundang permasalahan dan perselisihan di tengah masyarakat. Dalam kaidah Fikih disebutkan: “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”.

Imam al-Syarwani dalam Hasyiyah al Syarwani menjelaskan, adanya perselisihan tentang penentuan awal Ramadhan itu berlaku jika pemerintah tidak menetapkan keputusan dalam masalah tersebut. Jika pemerintah memutuskan dengan apa yang menjadi pendapatnya, maka seluruh rakyat wajib berpuasa dan keputusan pemerintah tidak boleh dilanggar.

Perbedaan pendapat dalam hal penentuan awal Ramadhan memang tidak dilarang, dan juga tidak mutlak harus taat kepada keputusan pemerintah. Namun untuk prinsip “kemaslahatan publik ”(al-maslahah al-‘âmmah) sudah seharusnya menjadi perhatian dan bersedia menghilangkan sikap ego kelompok masing-masing.

Namun demkian hal ini tidak perlu dipertentangkan dan besarkan masalahnya tetapi dicari persamaannya sehingga yang memulai 1 Ramadhan pada Sabtu (2/4/2022) maupun yang baru puasa Ramadhan pada Ahad (3/4/2022) tetap saudara dan puasa Ramadhan nya sah. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Redaksi: admin

830