Tips Memupuk Iman Pada Anak, Terangkan 5 Hal Ini Padanya 

0
267
ilustrasi foto: pixabay

PARENTINGISLAM.ID – – Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt harus senantiasa kita pupuk. Lalu bagaimana agar anak-anak mampu memupuk keimanannya? Berikut ini dialog yang bisa dilakukan.

“Papa, beri tahu Shofie cara agar bisa memelihara iman agar senantiasa kuat tak tergoyahkan.”

“Allah swt. mengumpamakan iman yang kuat seperti pohon yang akarnya menghunjam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, berdaun lebat, dan selalu berbuah. Hal ini terdapat dalam Surat Ibrahim ayat 24 dan 25.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (Laa Ilaha Illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke atas langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya selalu ingat.’”

“Agar pohon tetap subur dan kokoh, perlu dipelihara dengan memberinya air yang bagus dan pupuk yang berkualitas.”

“Iman pun demikian, harus dirawat dan dipupuk. Di antara strategi agar iman tetap dalam keadaan kokoh yaitu,

Pertama, muhasabatunnafsi.

Melakukan introspeksi diri. Mengidentifikasi apa saja kekurangan, kelemahan, dan kealfaan kita, lalu memperbaikinya dengan sungguh-sungguh.

Apabila melakukan amal keburukan, cepatlah bertaubat dengan memperbanyak istighfar yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai amal kebajikan yang Allah ridoi. Allah berfirman dalam ayat ke-18 surat Al Hasyr.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’”

 

Kedua, riyadhah ruhiyah.

Yaitu dengan latihan membiasakan melakukan amalan-amalan sunah, seperti shaum sunah, shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Witir, dan amalan–amalan sunah lainnya yang berfungsi untuk menyuburkan ruhiyah, sehingga senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam hidup.

Ketiga, tadabbur Al Quran

Yaitu membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan Al Quran. Syukursyukur kita bisa mengajarkannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Usman bin ‘Affan ra. berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Sebaikbaik dari kalian adalah yang mempelajari Al Quran, kemudian mengajarkannya.’

Al Quran adalah kitab Allah sebagai petunjuk bagi manusia. Apabila menemukan fenomena-fenomena yang menimbulkan keraguan, maka solusinya adalah dengan mentadabburi Al Quran.

Ayat ke-2 surat Al Baqarah berbunyi, ‘Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.’ Dengan tadabbur Al Quran, hati menjadi bercahaya karena Al Quran berfungsi sebagai cahaya (penerang) bagi orang yang dalam kegelapan, yang diliputi oleh keragu-raguan, kebimbangan dalam menjalani kehidupan, sehingga mendapatkan kemampuan membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang batil. Firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 24 berbunyi,

Mengapa mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran, ataukah hati mereka terkunci?

Keempat, dzikrullah.

Banyak mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram. Ketenteraman itu terasa dari jiwa ihsan, yaitu merasakan Allah selalu melihatnya sehingga setiap aktivitasnya senantiasa ada dalam tataran fitrahnya (mengikuti petunjuk Allah), yaitu ada dalam situasi tenteram dan damai, penuh keimanan yang merupakan cahaya di dalam menjalani kehidupannya.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ahzab ayat 41 sampai 43. ‘Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat- Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orangorang yang beriman.’

Kelima, memperbanyak doa.

Memohon pertolongan Allah agar hidup senantiasa ada dalam petunjuk-Nya, senantiasa berada dalam jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah mendapatkan anugerah nikmat-Nya seperti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Surat An-Nisa ayat 69 menyebutkan,

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’

 

Keenam, mencintai fakir miskin dan anak yatim.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Hurairah ra. bercerita, seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan qalbu yang dialaminya. Beliau menegaskan,

‘Bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang-orang miskin dan cintai anak yatim.’ ( HR.Muslim)

Mencintai mereka diaplikasikan dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilandasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah kenikmatan Allah.

Syukur adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan bahwa harta yang dimilikinya adalah titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai yang dikehendaki-Nya. Allah akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

Semakin banyak membahagiakan orang lain, akan semakin banyak kenikmatan hidup yang akan diraih. Ayat ke-7 surat Ibrahim menjelaskan,

…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’

Itulah di antara strategi agar iman tetap kokoh. Sehingga iman yang kita miliki dapat diibaratkan seperti pohon yang kokoh, berdaun rindang, berbuah lebat, dapat dijadikan tempat berteduh, bersandar, dan berlindung orang-orang yang kepanasan dan kecapean. Apabila ada angin atau badai datang menimpanya, pohon tersebut akan tetap kokoh berdiri tegak, elegan, gagah, indah, dan mempesona.” [ ]

Sumber: dikutip dari buku “  Ketika Shofie Bertanya “ karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

5

Redaksi: admin

926