Hambatan Saat Anak Dititipkan Pada Pengasuh atau Daycare

0
422

PARENTINGISLAM.ID – – Ada beberapa hambatan yang mungkin dirasakan orangtua ketika menitipkan anaknya pada pengasuh atau di daycare. Seperti dijelaskan dalam buku “ Renungan Dahsyat untuk Orangtua ” tulisan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, berikut ini hambatan tersebut;

  1. Masalah kesehatan, misalnya khawatir anak mudah tertular penyakit karena setiap hari berinteraksi dengan anak lain yang mungkin mengidap penyakit tertentu.

  2. Masalah ketidaknyamanan dan kekhawatiran karena anak dititipkan pada orang yang bukan termasuk keluarga sendiri.

  3. Masalah finansial. Menitipkan anak di daycare membutuhkan pengeluaran lebih dan ini akan menguras keuangan, baik untuk tranpsortasi antar-jemput maupun biaya daycare itu sendiri.

Poin pertama sebenarnya tidak beralasan. Maksud saya, bakteri dan kuman bisa ada di mana pun, seperti tanah, pohon, meja, kursi, atau tempat cuci piring. Ini persis seperti orangtua yang khawatir anaknya sakit jika hujan-hujanan.

Apakah air hujan yang menyebabkan anak sakit? Tanya dokter mana pun, bukan air hujan yang menyebabkan anak sakit, tapi masalah kekebalan tubuh anak yang tengah lemah dan kebetulan hujan-hujanan yang menyebabkan anak sakit.

Jika hujan dapat menyebabkan sakit, pastilah semua orang yang kena hujan akan sakit. Tapi, apakah semua orang yang kehujanan pasti sakit? Tidak, bukan?

Masalah tentu berbeda jika anak lain di daycare tersebut memiliki penyakit berbahaya dan berpotensi untuk ditularkan. Pihak daycare tentu akan mengambil tindakan pencegahan atau semacamnya.

Mengenai masalah kesehatan ini, jika anak memang memiliki kekebalan tubuh yang bagus, tentu dia tidak akan mudah terserang penyakit, bukan?

Poin kedua mengenai ketidaknyamanan adalah hal yang juga tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, setiap anak pada awalnya akan mengalami yang disebut separation anxiety atau kecemasan berpisah dengan orangtuanya.

Tapi, seiring berjalan waktu, yakinlah bahwa ketidaknyamanan ini akan hilang. Persis seperti anak yang ditinggalkan bekerja pertama kali oleh orangtua yang menangis dan mungkin histeris.

Tapi, jika orangtua konsisten, tangisan dan teriakan anak ini tidak akan berlangsung seterusnya.

Poin ketiga mengenai hambatan finansial, ini termasuk permasalahan yang serius. Jika memang ayah dan ibu bekerja demi anak-anak, lalu mengapakah Anda masih berpikiran soal hemat? Bukankah uang yang dihasilkan itu untuk dibelanjakan bagi keperlua anak?

Jadi, wajar jika uang yang dihasilkan itu sebagiannya diinvestasikan untuk anak, meski tetap harus dikelola porsinya. Ya, hendaknya orangtua tidak hitunghitungan dalam mengeluarkan dana untuk investasi pendidikan anak-anaknya.

Kita patut prihatin ketika banyak orangtua, demi kesuksesan masa depan anak-anaknya, bekerja keras membanting tulang. Tak jarang mereka sampai tidak punya waktu untuk anak-anaknya, bahkan menelantarkan anak-anaknya.

Tapi, yang terjadi setelah anak-anaknya besar dan sukses, orangtua yang renta ini justru ditelantarkan oleh anakanaknya.

Maka,sering berkata kepada para orangtua yang keduanya bekerja agar secara serius menginvestasikan sebagian uangnya untuk kebutuhan tumbuh kembang anaknya. Dananya ada tapi anak hanya difasilitasi atau diasuh oleh pembantu.

 Jika Anda bekerja, ya jangan hanya memercayakan anak kepada pembantu. Ketika Anda berangkat bekerja, titipkan di daycare atau kalau perlu rekrut tenaga pendidik (baik lulusan PAUD, PGTK, dan lain sebagainya) untuk menstimulasi anak di rumah dengan gaji profesional.

Seperti berlebihan, tapi tanya pada diri kita sendiri, apakah uang yang kita dapatkan dari hasil bekerja hanya untuk kepuasan kita sendiri, untuk kepentingan keluarga, atau untuk keduanya?. [ ]

5

Redaksi; admin

870