Tujuan Pernikahan Menurut Islam, 5 Hal Ini Harus Dipahami Suami Istri

0
518
ilustrasi foto: freepik

PARENTINGISLAM.ID – – Pernikahan, sebagaimana disebutkan Imam Al-Ghazali, dalam Ihyaa ‘Uluumuddin, memiliki kekurangan dan kelebihan (kebaikan). Di antara kekurangannya adalah beban untuk mencari nafkah lebih banyak, perhatian yang lebih untuk membina keluarga sakinah, mendidik dan mendewasakan anak-anak yang merupakan amanah, dan menjadi penghalang untuk memusatkan perhatian kepada Tuhan dan kepentingan akhirat. Namun, di balik semua itu, Al-Ghazali menekankan bahwa pernikahan memiliki banyak faidah yang luar biasa.

Pertama, melestarikan keturunan manusia di muka bumi. Di dalamnya terdapat beberapa keuntungan (1) terjadi persesuaian antara kehendak Allah untuk melestarikan jenis manusia dan usaha manusia mendapatkan anak. (2) upaya mencintai Rasulullah (mahabbatur rasul) dengan mengikuti sunnahnya. (3) anak saleh yang mendoakan orangtuanya, yang tidak akan terjadi tanpa adanya pernikahan.

Kedua, melalui pernikahan dapat memecahkan syahwat, membentengi diri dari godaan setan, dan menghindari fitnah.

Ketiga, jiwa akan merasa tenang dan bugar kembali dari keletihan ketika seseorang menyempatkan diri bercanda dan bercumbu dengan pasangannya. Sehingga memberi motivasikan baru dalam beribadah. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Dijadikan aku menyukai akan tiga hal dari duniamu, yaitu harum-haruman, wanita, dan kesenangan hatiku pada shalat.” (H.R. Nasa’i dan Hakim)

Keempat, adanya tempat berbagi dalam pekerjaan rumah tangga, sehingga sebagian waktu dapat dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan melakukan ibadah khusus.

Kelima, pernikahan dapat dijadikan sarana mujaahadatun-nafs (pengendalian diri) dan penguji kesabaran, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan seorang istri. Nabi Saw. bersabda, ”Apa yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada istrinya adalah sedekah. Sesungguhnya seorang suami akan diberi pahala karena dia memberikan makanan ke mulut istrinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tidak hanya itu, dalam membentuk sebuah keluarga berkualitas perlu dibangun kompetensi berumah tangga. Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Maka tak heran jika Rasulullah Saw. menyuruh kita untuk pandai-pandai memilih pasangan hidup.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan, dan keturunannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Abdillah bin Amrin r.a. berkata, Rasu­lullah Saw. telah bersabda, “Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sebab kecantikan itu pada saatnya akan hilang. Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena hartanya, sebab harta boleh jadi membuatnya congkak. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab seorang wanita budak yang jelek lagi hitam kelam yang memiliki agama (kuat dalam beragama) adalah lebih baik daripada wanita merdeka yang cantik lagi kaya, tetapi tidak beragama.” (H.R. Ibnu Majah)

Di dalam hadits lain dari Ibnu Abbas r.a., Nabi Saw. bersabda, “Empat perkara, barangsiapa memilikinya berarti dia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, badan yang sabar dikala mendapat musibah, dan istri yang dapat menjaga kehormatan diri serta dapat menjaga harta suami.” (H.R. Thabrani)

Keluarga akan sukses mencapai tujuan-tujuannya jika menerapkan prinsip syura dalam perencanaannya. Bahkan, untuk urusan menyapih (berhenti menyusui) pun harus di-syura­-kan. Ini perintah Allah Swt., “… Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan…” Jadi, jika ingin tidak ada satu orang dalam keluarga tersentuh api neraka, lakukan syura. Tetapkan ini sebagai visi keluarga kita. Lalu, breakdown agar menjadi sebuah langkah yang aplikatif. Mari kita ciptakan keluarga kita umat terbaik (khaira ummah). [ ]

4

Redaksi: admin

902