Kedudukan Anak Dalam Islam, 4 Hal Ini Perlu Diketahui Orangtua

0
328
Dalam pandangan Islam kehadiran anak bukan sekedar generasi penerus (foto: pixabay)
Dalam pandangan Islam kehadiran anak bukan sekedar generasi penerus (foto: pixabay)

PARENTINGISLAM.ID – – Dalam mendidik, hendaknya orangtua menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang. Hal ini dapat kita cermati dari panggilan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa bunayyaa (Wahai anak-anakku)”. Seruan tersebut menyiratkan sebuah panggilan dari orangtua yang penuh muatan kasih dan sentuhan kelembutan. Indah dan menyejukkan.

Kata bunayyaa mengandung rasa manja, kelembutan, dan kemesraan, tetapi tetap dalam koridor ketegasan dan kedisiplinan, meskipun tidak berarti mendidik dengan keras. Mendidik anak dengan keras hanya akan menyisakan dan membentuk anak berjiwa keras, kejam, dan kasar. Kekerasan hanya meninggalkan bekas yang menggores tajam kelembutan anak.

Ya, kelembutan dalam diri anak akan hilang tergerus oleh pendidikan yang keras dan brutal. Kekerasan akan membuat kepribadian anak jauh dari kebenaran dan kesejukan. Kelembutan dan kemesraan dalam mendidik merupakan konsep Al-Quran. Sehingga, apa pun pendidikan yang diberikan kepada anak hendaknya dengan kelembutan dan kasih sayang.

Begitu juga dalam prioritas utama pendidikan anak dalam Islam, yakni akidah. Mengapa harus akidah? Karena akidah merupakan fondasi dasar bagi manusia untuk mengarungi kehidupan. Akidah yang kuat akan membentengi anak dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Sebaliknya, jika akidahnya lemah, tidak ada lagi yang akan membentengi anak dari pengaruh negatif, baik dari dalam dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya.

Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam memulai langkah menjadi orangtua yang baik dan bertanggung jawab sehingga mampu menyampaikan akidah yang benar kepada anak? Tidak lain adalah dengan memahami posisi atau kedudukan anak dalam keluarga menurut Islam.

Seperti dikutip dari buku “GOLDEN PARENTING, Sudahkah Kudidik Anakku dengan Benar? “ karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si berikut ini kedudukan anak dalam pandangan Islam

 

  1. Anak adalah Amanah

Jangan sekali-kali berpikir bahwa anak adalah milik orangtuanya. Anak hanya amanah yang dititipkan oleh Allah Swt. kepada para orangtua. Allah mengamanahkan anak untuk dididik sesuai dengan nilai-nilai yang telah Dia gariskan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, ketika anak kurang memahami ajaran-ajaran Islam, orangtuanya yang layak dipersalahkan.

Amanah adalah suatu perkara yang akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipercaya memegangnya. Rasulullah Saw. bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Anak adalah Generasi Penerus

Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Tidak ada yang memungkiri ungkapan itu karena memang hal itulah yang akan terjadi. Oleh karena itu, sudah semestinya orangtua memberikan perhatian khusus dalam hal mendidik sehingga kelak anak menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.

Selain itu, sudah menjadi tanggung jawab setiap orangtua untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Allah Swt. berfirman dalam salah satu ayat-Nya,

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…” (Q.S. An- Nisaa [4]: 9)

Lebih jauh, Allah Swt. memerintahkan kepada suami sebagai kepala rumah tangga untuk menjaga anak serta istrinya agar jangan sampai terjilat api neraka kelak di akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahriim [66]: 6)

 

  1. Anak sebagai Investasi Akhirat

Selain berharap pada amal ibadah selama hidup di dunia, orangtua juga berharap bahwa anak yang telah dididik dengan susah payah akan mampu menyelamatkan mereka dari siksa api neraka. Ya, selain sedekah jariah dan ilmu yang bermanfaat, doa dari anak yang shaleh juga merupakan amalan yang pahalanya akan senantiasa mengalir meski kita sudah meninggal dunia. Rasulullah Saw. bersabda,

“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya” (H.R. Muslim).

 

  1. Anak sebagai Perhiasan Dunia

Dan sebagaimana perhiasan lainnya, kita tidak diperkenankan untuk menyombongkannya. Allah Swt. berfirman,

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 46)

Bermodal empat pemahaman terhadap kedudukan anak tersebut, saatnya orangtua bangkit dan melaksanakan kewajiban utamanya terhadap anak, yaitu memberikan perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang baik agar kelak mereka menjadi generasi yang dapat memberi manfaat bagi orangtua, bangsa, negara, dan agamanya.[ ]

 

4

Red: admin

Editor: admin

926

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini